Ini cerita perjalanku yang paling berkesan di sekitar Februari 2010 ke Desa Sawarna. Sebuah desa nelayan dengan keindahan pantai yang luar biasa, keramahan masyarakatnya, dan suasana desa yang sangat desa : )
Saat itu Aku, Diana dan bersama 3 teman menghabiskan 3 hari kami di Desa Sawarna. Saat itu kami tinggal di Homestay Widi milik keluarga Pak Ade, homestay ini cukup terkenal bagi mereka yang sudah pernah ke Sawarna karena saat itu tidak banyak homestay lain di desa itu.
Sebelum aku tiba disana, yang aku tahu tentang Sawarna adalah keindahan pantainya yang terkenal di kalangan para surfer terutama surfer asing (bule). Desa Sawarna sendiri tidak terlalu jauh dari Jakarta atau Bandung, hanya sekitar 6 jam perjalanan menggunakan mobil. Saat itu belum banyak orang yang mengenal dan tertarik mengenai desa ini.
Tiga hari tinggal bersama keluarga Pak Ade, aku sangat terkesan dengan keramahan dan kesederhanaan keluarga dan masyarakat desa. Kami tinggal di rumah sederhana, baru ada listrik setelah Pkl 18.00, makan ikan laut hasil tangkapan Pak Ade ditemani sambal ulek Bu Ade (*jadingeces), tak ada televisi hanya pembicaraan ringan di teras rumah sambil menikmati pisang goreng dan teh manis.
Saatnya bicara tentang keindahan Desa ini, akan aku mulai dengan pantainya. Pantai lebar dan panjang yang sepi, pasir yang lembut, ombak yang terkadang menakutkan, dan ditutup dengan keindahan langit saat matahai tenggelam. Setiap sore kami bisa bermain sepuasnya di pasir pantai atau hanya sekedar tidur-tiduran sambil menunggu keindahan matahari terbenam tiba tanpa gangguan rombongan atau turis lain ; )
Dari pantai mari aku akan berjalan sedikit menuyusur pantai menuju Tanjung Layar, sebuah baru karang besar hasil ukiran ombak berbentuk layar perahu . Tanjung layar ini semacam lambang bahwa Sawarna adalah tetap sebuah desa nelayan.
Ombak di Sawarna memang pandai mengukir, dari Tanjung Layar aku berjalan lagi menuju Tapak Kabayan. Tapak Kabayan adalah sebuah batu karang yang membentuk kolam yang bila dilihat dari atas seperti telapak kaki besar yang menginjak batuan karang di daerah itu. Dan yang terakhir bukti keahlian ombak Sawarna mengukir karang adalah Karang Taraje, bukit karang yang bagian sampingnya membentuk seperti taraje (tangga dalam bahasa sunda).
Selain pantai, desa ini juga punya gua yang cukup unik, yaitu Goa Lalay. Keunikan gua menurutku adalah akses masuknya, karena gua ini dialiri air dari dalam gua maka bila kita akan memasuki gua kita harus melewati sebuah air terjun kecil yang aliran airnya cukup deras. Gua ini dinamakan Goa Lalay karena banyak lalay (kelelawar). Trekking menuju dan pulang dari Goa Lalay adalah keindahan, ketika hamparan sawah di kanan kiri-mu, melewati sungai kecil, menaiki bukit kecil, lalu diakhiri dengan pemandangan pantai dari atas bukit yang sudah menunggu kami untuk bermain bersama.
Apa kabarmu hari ini Sawarna ? Masihkah seperti dulu dengan kesederhanaan, keramahan dan keindahanmu ?
Tampaknya hari ini kamu mulai banyak berkenalan dengan orang lain, pesanku jangan kamu berubah.
Mendengar seorang teman yang bertanya tentang Sawarna dan ia mencari homestay ber-AC disana, karena menurutnya saat ini sudah banyak homestay ber-AC disana, membuatku merasa tidak rela desa itu menjadi komersil. Aku butuh Pariwisata yang bertanggung jawab karena aku tidak ingin dampak pariwisata malah memberi dampak merusak.
Ini sebuah contoh, opini dan perasaanku saja yang menbuatku berpikir untuk menuli tentang Tourism Impact yang di Indonesia lebih sering hanya berbasis bisnis tanpa tanggung jawab.
Lihat kumpulan foto Sawarna disini.
Like this:
Be the first to like this post.
Comment