Archive

Archive for the ‘Indonesia’ Category

Gowes Ubud !!!

December 19, 2011 Leave a comment

Yup ini pengalaman pertamaku bersepeda serius :D   Beberapa bulan lalu Rio, salah satu temanku datang ke Bali setelah selesai bersepeda dari Larantuka sampai ke Bali. Setelah beberapa kali nongkrong bareng akhirnya Aku dan Diana diajaklah untuk mencoba sepedahan serius di Bali.

Aku dan Diana sebenernya tidak begitu tertarik soal sepeda, tapi tidak ada salahnya mencoba apalagi kali ini rute yang dipilih Rio adalah Ubud (rute yang terdengar menarik dan sejuk : ) 

This slideshow requires JavaScript.

Categories: Indonesia, my trip

Aktivitas Pagi di Dermaga

December 3, 2011 Leave a comment

Foto ini aku ambil dari arah Waka Shorea Resort Tanjung Kotal, kawasan Taman Nasional Bali Barat sesaat sebelum kami memulai aktivitas koservasi coral disana.

Categories: Gallery, Indonesia, my trip

Merapi, Bencana itu Satu Tahun yang Lalu

November 27, 2011 Leave a comment

Tahun lalu Aku dan Diana melakukan perjalanan pertama kami sebagai relawan. Saat itu kami berangkat berdua dari Bandung tanggal 13 November 2010 untuk menjadi relawan dalam bencana meletusnya Gunung Merapi tahun 2010. Kami berangkat dari Bandung menggunakan kereta menuju Solo untuk bergabung dengan beberapa teman-teman relawan independen di posko Global Rescue Network.

Buatku pengalaman ini sangat berarti dalam perjalanan hidupku saat ini, banyak hal yang aku temui, lalu aku pelajari dan aku resapi dari “bencana” Merapi.

Berbagi.

Berbagi adalah suatu kata yang sangat mudah aku katakan dan aku dengar, tapi sejak aku menjadi relawan aku merasakan bahwa berbagi itu begitu indah dan berkesan ketika kita melakukannya.

Selama disana aku bertugas untuk mengumpulkan data mengenai keadaan pengungsi di setiap daerah dampak bencana, dan kemudian mempersiapkan operasi keesokan harinya untuk menurunkan bantuan sesuai keadaan dan kebutuhan pengungsi di tiap daerah tersebut.

Melihat keadaan pengungsi dan berbincang mengenai keresahan mereka membuatku menyatu dengan perasaan mereka. Seolah-olah mereka semua adalah teman dekat dan keluargaku, berbagi itu menjadi sangat indah ketika melihat mereka tenang dan bersyukur atas bantuan para relawan disana.

Uang.

Cara pandangku terhadap uang pun berbeda, berada di lokasi bencana uang memang sangat berperan disana. Saat itu aku melihat uang menjadi fungsi sesungguhnya, yaitu HANYA sebagai alat tukar yang diubah bentuknya untuk membantu.

Uang yang selama ini aku pandang sebagai sesuatu yang harus aku kejar dan aku cari, ternyata di Merapi aku hanya melihat sebagai alat tukar, sebuah konsep awal tentang lahirnya uangnya di dunia ini yang sudah lama seperti dilupakan. Sebuah kata sederhana yang aku dengar dari para relawan disana adalah “buat apa kita lelah mencari uang, tapi kita tidak tahu apa gunanya uang bagi hidup kita dan orang-orang di sekitar kita”

Social Media dan Gadget.

Aku bukanlah orang yang suka dengan social media seperti twitter atau facebook, termasuk juga dengan gadget seperti blackberry yang saat itu sedang popular di lingkunganku. Di Merapi aku melihat bagaimana peran social media (terutama twitter) dan gadget sangat berguna dalam menyalurkan informasi saat itu.

Ada satu akun twitter yang saat itu luar biasa karena bisa menggerakan bantuan melalui kecepatan informasinya yang cepat dan tepat, yaitu @jalinmerapi . Saat itu akun ini dapat memberikan informasi mengenai keadaan korban yang memudahkan bantuan bisa sampai dengan tepat dan cepat.

Hidup.

Hal lain yang sangat membuatku berpikir dan terkesan adalah bagaimana para relawan disana memandang dan menjalani hidup. Mereka yang datang dengan meninggalkan semua “kehidupan” mereka untuk “hanya” membantu para korban bencana yang mungkin tidak pernah mereka kenal sebelumnya.

Buat aku tentu pola pikir dan gaya hidup relawan-relawan ini sungguh aneh dan menginspirasi. Mungkin mereka-mereka inilah yang berhasil menginspirasi aku untuk keluar dari pola hidup wajar yang selama ini aku kenal.

Hidupku yang selama ini selalu dibatasi oleh rentang waktu dan standar kemapanan, tiba-tiba terasa aneh ketika aku berbaur bersama para relawan disana. Bagi para relawan itu mereka hanya tahu bahwa mereka disana untuk membantu korban bencana sampai bencana tersebut selesai, dan fokus mereka hanya pada bencana.

Sekarang bencana itu terus memberikan kesan bagi hidupku dan membuatku keluar dari pola hidupku, bahwa hidup itu hanya sebuah pola yang berulang di tiap generasi (lahir-sekolah-lulus-kerja-nabung-menikah-nabung-beranak-nabung-sekolahin anak-nabung-ngawinin anak-punya cucu-ngurusin cucu-meninggal). Dari Merapi aku belajar bahwa hidup itu sederhana, dan sederhana itu bukan berarti mudah karena hdup itu akan menyenangkan ketika kita menikmati dan berguna.

 

Terimakasih Merapi, ketika bencana itu mengubah hidupku : )

Categories: Indonesia, my trip, Random Mind

Apa Kabarmu Sawarna ?

October 31, 2011 1 comment

Ini cerita perjalanku yang paling berkesan di sekitar Februari 2010 ke Desa Sawarna. Sebuah desa nelayan dengan keindahan pantai yang luar biasa, keramahan masyarakatnya, dan suasana desa yang sangat desa : )

Saat itu Aku, Diana dan bersama 3 teman  menghabiskan 3 hari kami di Desa Sawarna. Saat itu kami tinggal di Homestay Widi milik keluarga Pak Ade, homestay ini cukup terkenal bagi mereka yang sudah pernah ke Sawarna karena saat itu tidak banyak homestay lain di desa itu.

Sebelum aku tiba disana, yang aku tahu tentang Sawarna adalah keindahan pantainya yang terkenal di kalangan para surfer terutama surfer asing (bule). Desa Sawarna sendiri tidak terlalu jauh dari Jakarta atau Bandung, hanya sekitar 6 jam perjalanan menggunakan mobil. Saat itu belum banyak orang yang mengenal dan tertarik mengenai desa ini.

Tiga hari tinggal bersama keluarga Pak Ade, aku sangat terkesan dengan keramahan dan kesederhanaan keluarga dan masyarakat desa. Kami tinggal di rumah sederhana, baru ada listrik setelah Pkl 18.00, makan ikan laut hasil tangkapan Pak Ade ditemani sambal ulek Bu Ade (*jadingeces), tak ada televisi hanya pembicaraan ringan di teras rumah sambil menikmati pisang goreng dan teh manis.

Saatnya bicara tentang keindahan Desa ini, akan aku mulai dengan pantainya. Pantai lebar dan panjang yang sepi, pasir yang lembut, ombak yang terkadang menakutkan, dan ditutup dengan keindahan langit saat matahai tenggelam. Setiap sore kami bisa bermain sepuasnya di pasir pantai atau hanya sekedar tidur-tiduran sambil menunggu keindahan matahari terbenam tiba tanpa gangguan rombongan atau turis lain ; )

Dari pantai mari aku akan berjalan sedikit menuyusur pantai menuju Tanjung Layar, sebuah baru karang besar hasil ukiran ombak berbentuk layar perahu . Tanjung layar ini semacam lambang bahwa Sawarna adalah tetap sebuah desa nelayan.

Ombak di Sawarna memang pandai mengukir, dari Tanjung Layar aku berjalan lagi menuju Tapak Kabayan. Tapak Kabayan adalah sebuah batu karang yang membentuk kolam yang bila dilihat dari atas seperti telapak kaki besar yang menginjak batuan karang di daerah itu. Dan yang terakhir bukti keahlian ombak Sawarna mengukir karang adalah Karang Taraje, bukit karang yang bagian sampingnya membentuk seperti taraje (tangga dalam bahasa sunda).

Selain pantai, desa ini juga punya gua yang cukup unik, yaitu Goa Lalay. Keunikan gua menurutku adalah akses masuknya, karena gua ini dialiri air dari dalam gua maka bila kita akan memasuki gua kita harus melewati sebuah air terjun kecil yang aliran airnya cukup deras. Gua ini dinamakan Goa Lalay karena banyak lalay (kelelawar). Trekking menuju dan pulang dari Goa Lalay adalah keindahan, ketika hamparan sawah di kanan kiri-mu, melewati sungai kecil, menaiki bukit kecil, lalu diakhiri dengan pemandangan pantai dari atas bukit yang sudah menunggu kami untuk bermain bersama.

Apa kabarmu hari ini Sawarna ? Masihkah seperti dulu dengan kesederhanaan, keramahan dan keindahanmu ?

Tampaknya hari ini kamu mulai banyak berkenalan dengan orang lain, pesanku jangan kamu berubah.

Mendengar seorang teman yang bertanya tentang Sawarna dan ia mencari homestay ber-AC disana, karena menurutnya saat ini sudah banyak homestay ber-AC  disana, membuatku merasa tidak rela desa itu menjadi komersil. Aku butuh Pariwisata yang bertanggung jawab karena aku tidak ingin dampak pariwisata malah memberi dampak merusak.

Ini sebuah contoh, opini dan perasaanku saja yang menbuatku berpikir untuk menuli tentang Tourism Impact yang di Indonesia lebih sering hanya berbasis bisnis tanpa tanggung jawab.

Lihat kumpulan foto Sawarna disini.

Categories: Indonesia, my trip

Warna Warni Sawarna

October 31, 2011 3 comments

This slideshow requires JavaScript.

Photo by : Eko Octavianus, Diana Suciawati, Ageng, Natasia Budhi

Baca juga “Apa Kabarmu Sawarna?”

Categories: Gallery, Indonesia, my trip