Archive

Archive for the ‘culture’ Category

Ucing Kup

October 22, 2011 Leave a comment

Kemarin Aku dan Diana pergi makan malam di Roti Canai di daerah Sanur. Sambil menunggu pesanan kami datang, perhatian aku saat itu tertuju pada beberapa anak yang sedang bermain sepeda sampai tertawa sepuas-puasnya.  Buat aku yang cukup lama hidup di kota besar, sudah jarang aku melihat anak-anak seusia mereka masih bermain bersama teman-teman dengan begitu senangnya, lebih banyak anak-anak jaman sekarang yang aku lihat bermain Playstation atau Ipad atau game-game lain yang membuat mereka jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Oleh karena itu hari ini aku terpikir untuk meneruskan tulisanku tentang permainan tradisional masa kecilku, hari ini aku ingin main UCING KUP : )

Ya, siapa diantara kita yang pernah main UCING KUP ?? Aku mengenal permainan ini semasa SD di Bandung, biasa aku dan teman-teman main Ucing Kup di jam istirahat atau sepulang sekolah  ; ) Ucing Kup sering kami mainkan karena mudah dan tidak butuh peralatan, hanya butuh mengumpulkan orang saja dan berapa pun orangnya (asalkan lebih dari 3 orang) kami sudah bisa main Ucing Kup.

Cara bermain Ucing Kup sangat mudah, dan seperti kebanyakan permainan tradisional lainnya, Ucing Kup juga dimulai dengan melakukan “gambreng” untuk menentukan siapa yang jadi Ucing. Ya permainan dimulai dengan si ucing harus mengejar dan mencolek peserta permainan lain. Yang dikejar sama si ucing ini, boleh menangkupkan tangan di dada sambil berteriak “kup”, supaya tidak jadi ucing kalau ketowel. Sementara si peserta lain, boleh membangunkan mereka yang kup dengan mencolek dan teriak “bangun”. Begitu terus, sampai ada yang ketowel. Kalau semua peserta sudah dalam keadaan “kup” dan tidak ada yang dikejar lagi, maka, yang “kup” pertama jadi gentian jadi ucingnya :D

Kalau di Bandung banyak permainan Ucing-ucingan, selain Ucing Kup ada juga Ucing Sumput (Bahasa Inggrisnya Hide and Seek) dan Ucing Bol (mirip Ucing Kup tapi ditowelnya dengan cara dilempar bola). Sesuatu yang menyenangkan dalam semua permainan ini adalah interaksi, sesuatu yang kita butuhkan sebagai manusia, Yuk Maaaiiiinnn !!!!!

Categories: culture, games, Indonesia

Dialog Ular Naga Panjangnya

July 31, 2011 Leave a comment

Video uploaded by on May 8, 2009

Ular naga panjangnya bukan kepalang

Menjalar-jalar selalu kian kemari

Umpan yang lezat, itu yang dicari

Kini dianya yang terbelakang

Masih ingat permainan ini ?? : )

Ya, Ular Naga Panjangnya salah satu permainan yang paling sulit dimainkan bagiku.

Permainan ini sebenarnya sederhana hanya berjalan berbaris sambil memegang baju teman di depannya dan berjalan melewati “gerbang” yang dibuat oleh 2 orang sambil menyanyikan lagu ular naga panjangnya (teks diatas)

Bila syair lagu sudah habis, anak yang berada di barisan paling belakang akan ditangkap oleh “gerbang”

Setelah itu Sang Induk (anak yang berada di paling depan) akan berdialog dengan 2 anak yang menjadi “gerbang”.

Dialog dilakukan untuk menentukan nasib anak yang tertangkap oleh “gerbang”; biasanya dialog diantara mereka cukup lucu (oleh karena itu permainan ini cukup sulit bagiku -.-”) Berikut adalah salah satu contoh dialog antara “Sang Induk” dan “gerbang”..(I = Induk); (G = Gerbang); (G2 = Gerbang 2); (A = Anak yang Tertangkap)

I  : “Mengapa anak saya ditangkap ?

G  : “Karena menginjak-injak pohon jagung..

I  : “Bukankah dia sudah kuberi (bekal) nasi ?

G  : “Nasinya sudah dihabiskan

G2 : (menyeletuk) “Anaknya rakus, sih…

I  : “Bukankah dia membawa obor ?

G  : “Wah, obornya mati tertiup angin..

I  : “Bukankah …. ?

G  : “….. “, dan seterusnya

Bila “Sang Induk” sudah menyerah ia akan menepuk “gerbang” dengan dialog seperti ini :

I  : “Ini pintu apa ?

G  : “Pintu besi !

I  : “Yang ini ?“, (menepuk tangan yang lain)

G  : “Pintu api !

I  : “Ini ?” (menunjuk tangan yang lain lagi)

G  : “Pintu air !“,

I  : “Dan ini ?” (menunjuk tangan yang terakhir)

G  : “Pintu duri !

Terakhir “Sang Induk” akan bertanya kepada anak yang tertangkap “gerbang” seperti ini :

I  : “Kau mau pilih ‘bintang’ atau ‘bulan’ ?

A  : “Bintang !

Maka anak yang tertangkap itu akan berdiri di belakang salah satu “gerbang” yang dijuluki “bintang”; lalu permainan dilanjutkan kembali.

Permainan ini akan berakhir sampai semua anak (kecuali “Sang Induk”) tertangkap oleh “gerbang”

Ayo terus budayakan permainan tradisional kita, Indonesia : )

Categories: culture, games, Indonesia

Keramahan dari Cigugur

July 11, 2011 Leave a comment

Ini adalah sebuah cerita perjalanku beberapa waktu lalu bersama tiga temanku, ketika aku merasakan keramahan Indonesia di Desa Cigugur. Saat itu aku berangkat ke Desa Cigugur untuk menyaksikan upacara Seren Taun, yaitu upacara yang dilakukan warga Desa Cigugur sebagai ucapan syukur atas musim panen padi yang sudah mulai tiba. Kali ini adalah pengalaman pertamaku menyaksikan upacara seren taun yang memang diadakan oleh beberapa desa juga di daerah Jawa Barat menjelang tibanya musim panen padi.

Kurang lebih 6 jam perjalananku mengendarai mobil dari Bandung untuk sampai di Desa Cigugur di daerah Kuningan, Jawa Barat ini. Kami tiba di Desa Cigugur sekitar pukul 23.00, suasana di desa ketika kami tiba masih cukup ramai oleh penduduk dan panitia acara yang sedang bersiap untuk acara puncak seren taun yang akan diadakan esok harinya. Sesaat kami bingung untuk mencari panitia dan tempat beristirahat sampai besok pagi, sampai akhirnya kami pun memutuskan untuk masuk ke aula desa dimana disana banyak panitia berkumpul.

Setibanya kami di aula desa ternyata kami diminta untuk mengisi buku tamu oleh panita, kemudian mereka memberitahu kami siapa yang akan menjadi tuan rumah kami. Setelah menunggu beberapa saat ada panitia pria yang menghampiri kami dan mengantar kami ke rumah salah satu warga tempat kami menginap.

Akhirnya setelah berjalan kurang lebih 200meter dari aula desa kami pun tiba di rumah salah satu warga yang menjadi tuan rumah kami selama acara seren taun berlangsung. Saat itu pemilik rumah tampaknya sudah tertidur, sehingga pihak panitia pun mengetuk pintu rumah untuk membangunkan pemilik rumah. Aku pun kaget setelah sang pemilik rumah itu bangun, ternyata pemilik rumah itu adalah seorang nenek yang tinggal sendiri di rumah itu (tetapi anak-anak sang nenek tinggal berdekatan dengan rumah nenek).

Kami pun masuk ke dalam rumah dan berkenalan dengan sang nenek, ternyata sang nenek tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia sehingga aku pun harus berusaha berbicara dengan nenek dengan bahasa sunda : ) Malam perkenalan kami dengannenek tidak terlalu panjang karena hari sudah malam.

Keesokan paginya kami berempat pun bersiap untuk hunting foto dan menyaksikan puncak acara seren taun yang diadakan tepat di depan aula Desa Cigugur. Tetapi nenek sudah bangun terlebih dahulu dan menyiapkan kami sarapan dan aku pun berbincang-bincang sebentar dengan nenek sambil menunggu giliran mandi dan sarapan : )

Saat itu sebuah keramahan yang menurutku sangat Indonesia, sekali melihat nenek yang ternyata hampir setiap tahun menyediakan rumahnya untuk disinggahi para pengunjung seren taun, bahkan seringkali juga rumahnya dijadikan tempat murid-murid sekolah dari Bandung atau Jakarta yang melakukan kegiatan live in (tinggal dalam kehidupan desa).

Setelah siap kami pun bergegas menuju aula desa untuk melihat puncak acara seren taun. Disana aku lebih sering tercengang melihat dan mendengar tarian dibandingkan fokus dengan kamera ku : ) Mungkin karena ini pengalaman pertamaku melihat upacara ini, banyak hal yang aku kagumi dari cara hidup masyarakat di desa ini. Mereka mengucap syukur atas berkat yang diberikan Tuhan di musim panen ini. Mereka tidak segan berbagi kebahagian dan berkat yang diberikan dengan orang-orang yang datang di acara ini. Bagaimana mereka menghormati alam sebagai alat yang diberikan Tuhan menjadi penghasilan bagi mereka, melalui tarian ucapan syukur dan memperingati bahwa bencana yang ada di sekitar kita itu diakibatkan oleh ulah kita sendiri.

Puncak acara seren taun ini diakhiri dengan menumbuk padi bersama lalu makan bersama, dimana ada beberapa ibu yang menyediakan nasi dan sedikit lauk untuk dinikmati oleh setiap warga.

Menjelang sore hari kami pun kembali ke rumah nenek untuk bersiap pulang, tetapi sebelumnya kami berbincang-bincang lagi dengan nenek, sampai nenek pun berkata dan memaksa kami untuk tidak pulang dulu. Walaupun akhirnya kami harus kembali karena kesibukan kami masing-masing, tetapi keramahan nenek dan semua warga Desa Cigugur benar-benar memberikan kesan mendalam bagiku, suatu saat aku berjanji akan kembali ke Desa Cigugur untuk sekedar berbincang-bincang dengan nenek dan menghabiskan beberapa hari disana. Begitu indah, begitu ramah, begitu Indonesia : )

Lihat juga kumpulan foto dari Cigugur http://wp.me/p1wPlz-2c

Categories: culture, Indonesia, my trip

Seren Taun Desa Cigugur

July 11, 2011 Leave a comment

This slideshow requires JavaScript.

Nengkleng itu Dengkleng

May 26, 2011 3 comments

Masih dalam suasana menulis permainan masa kecil, hari ini aku ingin bercerita satu permainan lagi yaitu Dengkleng = )

Terakhir kali aku main dengkleng sekitar tahun lalu, ketika aku dan beberapa teman sempat travelling ke Desa Sawarna, Banten. Sambil menunggu sunset di pantai sawarna kami pun bermain dengkleng (orang sunda menyebutnya demikian), tetapi ada juga yang menyebutnya “cak ingklik” atau “kepyak” (semoga tulisannya betul : )

Masih pada ingat cara main dengkleng ?? Prinsip dasar main dengkleng adalah kita harus “nengkleng” (loncat dengan 1 kaki)

Pertama. Buat 9 kotak yang terdiri dari 8 kotak persegi yang diberi nomer 1 s/d 8 dan 1 buah yang berbentuk setengah lingkaran (disebut puncak gunung), kemudian buat garisbatas loncat kurang lebih jaraknya setengah loncatan dari kotak pertama (sebagai garisbatas loncat dan melempar kabak). Untuk main dengkelng kurang lebih kita butuh 2-5 orang, setiap orang menyiapkan 1 buah kabak (biasanya dari pecahan genteng atau batu pipih)

Kedua. Seperti kebanyakan permainan lain, mulailah dengan “gambreng” atau hompimpa, untuk menentukan urutan main. Pemain urutan pertama akan melemparkan kabaknya ke kotak pertama, kemudian ia harus nengkleng ke kotak nomer 2 s/d 8. Bila sudah sampai di kotak nomer 8 ia harus berbalik lagi, sampai di kotak nomer 2 ia harus mengambil kabaknya, setelah itu ia baru bisa nengkleng ke kotak no 1, lalu kembali ke garisbatas loncat. Selanjutnya ia melempar kabak ke kota no 2, demikian seterusnya.

Ketiga. Pemain akan berganti giliran bila, ada pemain yang lemparan kabaknya mengenai garis atau mengenai kabak pemain lain; kemudian bila ketika nengkleng kaki pemain tersebut mengenai garis atau keluar kotak atau kedua kakinya turun; atau pemain tersebut nengkleng ke kotak yang sedang ada kabaknya.

Keempat.  Bila kita berhasil melempar kabak ke semua kotak (dari no 1 s/d 8 ), tugas selanjutnya adalah melempar kabak ke puncak gunung (berbentuk setengah lingakaran). Tapi cara melempar kabak ke puncak gunung caranya berbeda, yaitu harus menggunakan punggung tangan dan membelakanginya sehingga kita tidak bisa melihat puncak gunungnya = ) Bila berhasil masuk di puncak gunung ia harus mengambil kabaknya dengan cara jongkok, kemudian membawa kembali kabaknya ke garisbatas. Bila ia berhasil melakukan semuanya, ia berhak memilih satu buah kotak dengan cara mencoret salah satu kotak yang ia pilih.

Kelima. Kotak yang sudah dipilih ini hanya boleh disinggahi oleh pemilik kotak, bila ada pemain lain yang nengkleng ke kotak yang bukan miliknya, ia harus berganti giliran

Keenam. Bila semua kotak sudah ada yang memiliki (kecuali puncak gunung), maka permainan berakhir. Pemain yang menang adalah yang memiliki kotak paling banyak. Dulu waktu aku kecil pemain yang paling sedikit memiliki kotak akan menggendong pemain yang paling banyak memiliki kotak = )

Kurang lebih begitu cara bermain dengkelng yang aku ketahui, apakah ada cara bermain dengkleng yang berbeda di daerah lain ??

Mari sama-sama kita lestarikan permainan tradisional sebagai budaya Indonesia : )

Categories: culture, games, Indonesia