Tulamben Bali

November 5, 2011 1 comment

photo by : Diana Suciawati

Tulamben photoshot klik here 

Tulamben menjadi pembuka perjalanan diveINdonesia-ku di Pulau Bali. Terletak di Karang Asem, bagian timur Pulau Bali dengan jarak tempuh kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil dari Denpasar.

Tulamben sudah lama menjadi dive spot yang (mungkin) paling terkenal di Bali, hampir semua diver yang datang ke Bali pasti akan mengunjungi Tulamben. Begitu terkenalnya dive spot ini, aku sempat under estimate akan keindahan Tulamben, karena dalam pandanganku dive spot yang sudah ramai dikunjungi orang pasti keindahannya biasa saja. Semua pandangan itu akan berubah setelah aku melakukan dive pertama di Tulamben, begitu banyak ikan dan coral yang indah ternyata : )

Ada 2 spot yang sering dikunjungi di Tulamben adalah Liberty Wreck dan Drop Off. Rekomendasi untuk Tulamben adalah fullmoon night dive -nya,night dive saat bulan purnama :)

Dive Centres

Stay

  • Liberty Dive Resort (Off Jalan Raya Tulamben 500m west of town; telp : (0363) 23 347)
  • Paradise Resort Tulamben (Tulamben – Karangasem – Bali, PO BOX III Amlapura; telp : (362) 22918 ; Fax. : (363) 22913) Email : sales@paradise-tulamben.com
  • Mimpi Bali (500m west of Tulamben off Jalan Raya Tulamben; telp : (0813) 3856 3418)
  • Matahari Tulamben Resort (Jalan Raya Tulamben; telp : (0363) 22 916)
  • Puri Madha Bungalow (Off Jalan Raya Tulamben 500m west of town; telp : (081) 7471 2161; F: (0363) 23 346)
  • Tulamben Wreck Divers (Jalan Raya Tulamben; telp : (081) 338 711 389)

Eat

  • Warung Komang (Indonesian food; nasi goreng, nasi campur and a variety of soups)
  • Wayan Restaurant (Indonesian food, WiFi)
  • Safety Stop Restaurant and Bar (Western Food, WiFi)
Transport
  • Perama Daily Shuttle Bus Service klik here

diveINdonesia

November 4, 2011 3 comments

Salah satu sudut di blog ini akan aku gunakan untuk bercerita dan berbagi keindahan bawah laut Indonesia.

Sudut diveINdonesia ini akan mencatat setiap dive spot di Indonesia yang aku selami, semoga aku bisa menyelami seluruh keindahan bawah laut Indonesia.

Tujuanku agar kita semua sadar bahwa kita tinggal di sebuah negara yang memiliki keindahan bawah laut yang luar biasa dan kita sebagai pemiliknya akan terus menghargai dan melestarikannya.

Berhubung saat ini aku tinggal di Bali, maka perjalan diveINdonesia – ku akan dimulai dari keindahan bawah laut Pulau Bali : )

 

Categories: diveINdonesia

Apa Kabarmu Sawarna ?

October 31, 2011 1 comment

Ini cerita perjalanku yang paling berkesan di sekitar Februari 2010 ke Desa Sawarna. Sebuah desa nelayan dengan keindahan pantai yang luar biasa, keramahan masyarakatnya, dan suasana desa yang sangat desa : )

Saat itu Aku, Diana dan bersama 3 teman  menghabiskan 3 hari kami di Desa Sawarna. Saat itu kami tinggal di Homestay Widi milik keluarga Pak Ade, homestay ini cukup terkenal bagi mereka yang sudah pernah ke Sawarna karena saat itu tidak banyak homestay lain di desa itu.

Sebelum aku tiba disana, yang aku tahu tentang Sawarna adalah keindahan pantainya yang terkenal di kalangan para surfer terutama surfer asing (bule). Desa Sawarna sendiri tidak terlalu jauh dari Jakarta atau Bandung, hanya sekitar 6 jam perjalanan menggunakan mobil. Saat itu belum banyak orang yang mengenal dan tertarik mengenai desa ini.

Tiga hari tinggal bersama keluarga Pak Ade, aku sangat terkesan dengan keramahan dan kesederhanaan keluarga dan masyarakat desa. Kami tinggal di rumah sederhana, baru ada listrik setelah Pkl 18.00, makan ikan laut hasil tangkapan Pak Ade ditemani sambal ulek Bu Ade (*jadingeces), tak ada televisi hanya pembicaraan ringan di teras rumah sambil menikmati pisang goreng dan teh manis.

Saatnya bicara tentang keindahan Desa ini, akan aku mulai dengan pantainya. Pantai lebar dan panjang yang sepi, pasir yang lembut, ombak yang terkadang menakutkan, dan ditutup dengan keindahan langit saat matahai tenggelam. Setiap sore kami bisa bermain sepuasnya di pasir pantai atau hanya sekedar tidur-tiduran sambil menunggu keindahan matahari terbenam tiba tanpa gangguan rombongan atau turis lain ; )

Dari pantai mari aku akan berjalan sedikit menuyusur pantai menuju Tanjung Layar, sebuah baru karang besar hasil ukiran ombak berbentuk layar perahu . Tanjung layar ini semacam lambang bahwa Sawarna adalah tetap sebuah desa nelayan.

Ombak di Sawarna memang pandai mengukir, dari Tanjung Layar aku berjalan lagi menuju Tapak Kabayan. Tapak Kabayan adalah sebuah batu karang yang membentuk kolam yang bila dilihat dari atas seperti telapak kaki besar yang menginjak batuan karang di daerah itu. Dan yang terakhir bukti keahlian ombak Sawarna mengukir karang adalah Karang Taraje, bukit karang yang bagian sampingnya membentuk seperti taraje (tangga dalam bahasa sunda).

Selain pantai, desa ini juga punya gua yang cukup unik, yaitu Goa Lalay. Keunikan gua menurutku adalah akses masuknya, karena gua ini dialiri air dari dalam gua maka bila kita akan memasuki gua kita harus melewati sebuah air terjun kecil yang aliran airnya cukup deras. Gua ini dinamakan Goa Lalay karena banyak lalay (kelelawar). Trekking menuju dan pulang dari Goa Lalay adalah keindahan, ketika hamparan sawah di kanan kiri-mu, melewati sungai kecil, menaiki bukit kecil, lalu diakhiri dengan pemandangan pantai dari atas bukit yang sudah menunggu kami untuk bermain bersama.

Apa kabarmu hari ini Sawarna ? Masihkah seperti dulu dengan kesederhanaan, keramahan dan keindahanmu ?

Tampaknya hari ini kamu mulai banyak berkenalan dengan orang lain, pesanku jangan kamu berubah.

Mendengar seorang teman yang bertanya tentang Sawarna dan ia mencari homestay ber-AC disana, karena menurutnya saat ini sudah banyak homestay ber-AC  disana, membuatku merasa tidak rela desa itu menjadi komersil. Aku butuh Pariwisata yang bertanggung jawab karena aku tidak ingin dampak pariwisata malah memberi dampak merusak.

Ini sebuah contoh, opini dan perasaanku saja yang menbuatku berpikir untuk menuli tentang Tourism Impact yang di Indonesia lebih sering hanya berbasis bisnis tanpa tanggung jawab.

Lihat kumpulan foto Sawarna disini.

Categories: Indonesia, my trip

Warna Warni Sawarna

October 31, 2011 3 comments

This slideshow requires JavaScript.

Photo by : Eko Octavianus, Diana Suciawati, Ageng, Natasia Budhi

Baca juga “Apa Kabarmu Sawarna?”

Categories: Gallery, Indonesia, my trip

Ucing Kup

October 22, 2011 Leave a comment

Kemarin Aku dan Diana pergi makan malam di Roti Canai di daerah Sanur. Sambil menunggu pesanan kami datang, perhatian aku saat itu tertuju pada beberapa anak yang sedang bermain sepeda sampai tertawa sepuas-puasnya.  Buat aku yang cukup lama hidup di kota besar, sudah jarang aku melihat anak-anak seusia mereka masih bermain bersama teman-teman dengan begitu senangnya, lebih banyak anak-anak jaman sekarang yang aku lihat bermain Playstation atau Ipad atau game-game lain yang membuat mereka jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Oleh karena itu hari ini aku terpikir untuk meneruskan tulisanku tentang permainan tradisional masa kecilku, hari ini aku ingin main UCING KUP : )

Ya, siapa diantara kita yang pernah main UCING KUP ?? Aku mengenal permainan ini semasa SD di Bandung, biasa aku dan teman-teman main Ucing Kup di jam istirahat atau sepulang sekolah  ; ) Ucing Kup sering kami mainkan karena mudah dan tidak butuh peralatan, hanya butuh mengumpulkan orang saja dan berapa pun orangnya (asalkan lebih dari 3 orang) kami sudah bisa main Ucing Kup.

Cara bermain Ucing Kup sangat mudah, dan seperti kebanyakan permainan tradisional lainnya, Ucing Kup juga dimulai dengan melakukan “gambreng” untuk menentukan siapa yang jadi Ucing. Ya permainan dimulai dengan si ucing harus mengejar dan mencolek peserta permainan lain. Yang dikejar sama si ucing ini, boleh menangkupkan tangan di dada sambil berteriak “kup”, supaya tidak jadi ucing kalau ketowel. Sementara si peserta lain, boleh membangunkan mereka yang kup dengan mencolek dan teriak “bangun”. Begitu terus, sampai ada yang ketowel. Kalau semua peserta sudah dalam keadaan “kup” dan tidak ada yang dikejar lagi, maka, yang “kup” pertama jadi gentian jadi ucingnya :D

Kalau di Bandung banyak permainan Ucing-ucingan, selain Ucing Kup ada juga Ucing Sumput (Bahasa Inggrisnya Hide and Seek) dan Ucing Bol (mirip Ucing Kup tapi ditowelnya dengan cara dilempar bola). Sesuatu yang menyenangkan dalam semua permainan ini adalah interaksi, sesuatu yang kita butuhkan sebagai manusia, Yuk Maaaiiiinnn !!!!!

Categories: culture, games, Indonesia

God Save The Traveller

October 8, 2011 1 comment

“God Save The Traveller” kalimat ini diucapkan oleh salah satu temanku; ketika beberapa hari yang lalu ia datang ke Bali dan kami sedang ngobrol di salah satu café di kawasan Pantai Kuta. Kalimat itu membawaku pada cerita perjalananku dan Diana pada tahun 2009 ke Dieng dan Solo, percaya tidak percaya ini adalah beberapa cerita yang menjelaskan kalimat “God Save The Traveller”.

Tiket Kereta Api Hilang

Saat itu Aku dan Diana sudah bekerja di Jakarta; kami merencanakan untuk melakukan trip bersama saat libur lebaran (maklum setelah kerja kantoran sulit cari waktu untuk travelling bareng). Akhirnya dipilihlah tujuan trip kami kali ini adalah ke Dieng lalu dilanjutkan ke Solo; kemudian dari Solo kami pulang ke Bandung.

Rencana kami akan berangkat dari Jakarta tanggal 20 September 2009 (bertepatan dengan hari pertama lebaran, asumsi kami lalu lintas arus mudik tidak akan sepadat sebelum hari H), kami berangkat menggunakan Bus dan kembali dari Solo tanggal 26 September 2009 menggunakan kereta api ke Bandung.

Beberapa hari sebelum tanggal 20 September kami berdua pergi ke Citraland untuk mencari beberapa perlengkapan untuk trip Dieng Solo kami. Setelah selesai berbelanja kami pulang ke arah Kelapa Gading menggunakan Bus TransJakarta dari Halte Jelambar. Baru saja bus kami jalan sekitar 5 menit, tiba-tiba kondektur bus meminta supir untuk berhenti dan meminta seluruh penumpang memeriksa barang bawaannya masing-masing. Ternyata dompet Diana dicopet orang di halte; kondektur tersebut ternyata curiga pada salah seorang penumpang yang tidak jadi naik bus saat di halte. (ada adegan dimana kondektur bus loncat keluar dari bus dan lari ke arah halte untuk mencoba mengejar si pencopet; walaupun akhirnya gagal dikejar -.-“ )

Baiklah kejadian ini cukup membuat kami stress karena di dalam dompet itu ada tiket kereta api dari Solo ke Bandung yang sudah kami beli jauh-jauh hari karena takut habis dalam suasana mudik lebaran. Sempat bingung dan bengong di Halte Pasar Baru akhirnya baru tercetus ide untuk mengurus tiket kami ke Gambir; akhirnya buru-buru kami menuju Stasiun Gambir untuk mengurus tiket kami.

Akhirnya kami merasakan juga rasanya kehilangan tiket; tapi tenyata “God Save The Traveller” pihak Stasiun sangat membantu kami sampai akhirnya kami mendapat surat pengantar dari pihak Stasiun Gambir untuk ditukar dengan tiket saat kami tiba di Solo (beruntungnya kami, di Stasiun Gambir saat itu juga sedang ada pos polisi operasi ketupat; sehingga Diana bisa langsung mengurus surat keterangan hilang disana)

Bus Ekonomi dan Mogok

Tibalah tanggal 20 September 2009 : ) maka berangkatlah kami berdua menuju terminal Rawamangun mengejar Bus ke arah Wonosobo. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya kami sudah hunting tiket bus; tapi karena  dalam suasana mudik lebaran kami harus membeli tiket pada hari keberangkatan.

Baiklah pagi-pagi hari kami sudah tiba di terminal; tapi ternyata masih kurang pagi juga untuk mendapat tiket bus AC, akhirnya dapatlah kami bus ekonomi  (terus terang ini pengalaman aku naik bus ekonomi).

Akhirnya siang menjelang sore bus kami pun mulai jalan; ternyata suasana bus saat itu cukup menyenangkan dengan keramaian di dalam bus dan musik jalanan di dalam bus : ) Tiba malam hari bus kami memasuki jalan tol (aku lupa nama jalan tol-nya -.-“); sekitar 30 menit bus kami melewati jalan tol terjadilah bus kami mogok, tiba-tiba supir bus meminta seluruh penumpang untuk turun dari bus. Akhirnya keluarlah kami seluruh penumpang ke pinggir jalanan dan sang supir sibuk memperbaiki bus. Awalnya aku cukup khawatir karena bus kami mogok dan menyesal menggunakan bus ekonomi, apalagi ditambah gerimis yang mulai turun saat kami menunggu,

Beberapa saat aku menunggu supir bus Aku dan Diana mencoba untuk menikamti suasana saat itu, biasa aku sering melihat penumpang bus menunggu bus mogok sementara aku menggunakan mobil pribadi melewati ruas tol tersebut; akhirnya saat itu aku merasakan juga pengalaman seperti itu : ) Akhirnya aku berpikir mungkin Tuhan punya rencana lain atas mogoknya bus kami “God Save The Traveller” : )

Wonosobo –Bawen –Solo Uang Tunai Habis

Setelah selesai berpetualang di Dieng selama 3 hari, di tanggal 24 September kami melanjutkan perjalanan ke Solo. Setelah bertanya kepada pengurus homestay kami; untuk menuju Solo kami harus naik bus dari Wonosobo ke terminal Bawen lalu kami bertukar bus yang menuju Solo.

Hasil bertanya kami saat itu tarif bus dari Wonosobo ke Bawen kalau tidak salah Rp 22.000/org; kemudian bus dari Bawen ke Solo Rp 10.000/org (sebenarnya aku lupa angka persis tarif-nya; tapi anggap saja tarifnya seperti itu).

Setelah menunggu cukup lama di Wonosobo akhirnya kami mendengar sebuah mobil elf dengan kenek-nya berteriak “bawen bawen….”; kami sempat bingung karena yang lewat kenapa bukan bus tapi malah mobil elf. Karena kami sudah cukup lama menunggu dan bertanya kepada sang kenek dan memastikan bahwa mobil itu lewat terminal Bawen kami pun tak pikir panjang untuk menaiki mobil tersebut.

Setelah kurang lebih 30 menit mobil itu berjalan dan kami sedang menikmati perjalanan kami saat itu; datanglah sang kenek menagih ongkos kepada kami. Ketika sang kenek menagih aku pun memberikan uang Rp 50.000 (dengan asumsi 2 orang dengan tarif per orang yang kami tahu adalah Rp 22.000); lalu sang kenek malah meminta Rp 30.000 lagi kepadaku karena tarifnya Rp 40.000/orang. Lalu aku bertanya kepada sang kenek kenapa tarifnya Rp 40.000/ orang bukannya Rp 22.000; lalu sang kenek memberitahu kami bahwa mobil elf itu adalah sebenarnya mobil dadakan yang digunakan karena bus yang biasa melayani rute ke Bawen penuh selama musim mudik saat itu; maka tarifnya pun dua kali lipat.

Saat itu uang tunai kami sangat pas untuk ongkos sampai di Solo karena ketika di Dieng kami lupa menyiapkan dana untuk membeli oleh-oleh. Baiklah kembali ke adegan saat sang kenek menagih ongkos; saat ia memberitahu kami bahwa ongkosnya kurang kami pun hanya bisa saling bertatapan, berdiam sejenak (karena kami tahu uang tunai kami sangat pas-pasan) setelah beberapa detik bertatapan kami berdua pun sibuk mengeluarkan semua sisa uang kami yang ada di kantong.

“God Save The Traveller” saat itu adalah semua uang kami sampai uang receh yang kami kumpulkan cukup untuk membayar ongkos sampai di Bawen. Selesai adegan kenek menagih ongkos kepada kami, masuklah kami ke adegan berikutnya dimana kami berdua hanya bisa saling diam dan mencari akal bagaimana kami bisa sampai di Solo dari Bawen tanpa uang sepeser pun saat itu -.-“ Beberapa menit saat itu kami berdua tampak tidak menikmati perjalanan dan hanya diam, sempat terlintas di pikiran kami untuk ngamen di terminal supaya dapat uang untuk ke Solo atau minta tolong ke kantor polisi untuk meminta uang. Sampai beberapa menit semua ide itu terlihat mustahil akhirnya Diana memecah keheningan dan berkata “Udahlah ga usah terlalu dipikirin, gimana nanti aja mending kita nikmati perjalanan aja hahahaha….”.

Akhirnya tibalah kami di terminal Bawen, setelah turun dari bus saatnya kami mencari akal agar bisa ke Solo. Sempat melihat ke arah Bank BRI yang sudah tutup, lalu melihat ke arah kantor polisi, sampai akhirnya aku melihat ada Alfamart dan aku ingat kita bisa melakukan tarik tunai di Alfamart. Lalu kami pun berjalan cepat ke Alfamart dan berharap kami bisa melakukan tarik tunai disana, kami pun langsung bertanya ke kasir apakah kami bisa melakukan tarik tunai disana. Daaan “God Save the Traveller” kami pun bisa melakukan tarik tunai disana dengan pembelian minimal Rp 25.000; maka berangkatlah kami meninggalkan Bawen menuju Solo : )

Tukang Becak; Ibu-Ibu dan Bahasa Jawa

Tanggal 25 September adalah hari terakhir kami di Solo; setelah selesai jalan-jalan hari itu kami berencana membeli sosis solo dulu sebelum ke stasiun untuk bekal di perjalanan; oleh karena itu kami pun mencari becak untuk mengantar kami.

Tidak sulit mencari becak di Solo, tetapi yang sulit adalah menawar tarif becak apalagi kami tidak ada yang bisa bahasa jawa. Saat kami sedang tawar menawar dengan tukang becak yang mau mengantar kami ke sosis solo dan stasiun yang memberi kami harga Rp 50.000 (kalau tidak salah); tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiri kami dan ternyata ia membantu kami menawar becak sekaligus sedikit memarahi tukang becak dengan bahasa jawa, akhirnya tarif becak-nya turun menjadi Rp 15.000 saja : ) Ibu itu pun memberikan kami nomer telepon dia dan mengancam si tukang becak bahwa adiknya adalah anggota polisi, jadi jika si tukang becak menagih lebih dari Rp 15.000 dia menyuruh kami menghubunginya, dan lagi lagi “God Save The Traveller” : )

Categories: Indonesia, my trip

Lentera Jiwa

October 2, 2011 Leave a comment

Lentera Jiwa – Nugie

lama sudah kumencari apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi tiada satupun kumengerti
tersesatkah aku disamudra hidupku

kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirku

reff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

“Doni Akuntan — Sebenarnya pengen jadi pelukis, tapi..”

“Vina Staff KOMNAS Perempuan — Masih nunggu saat yang pas buat terjun ke musik”

“Tomo Fotografer — Tadinya menekuni kuliah matematika”

“Devi Pemain Harpa profesional — Asli lulusan teknik mesin”

“Adri Sarjana Teknik Arsitektur — lebih enjoy jadi Video Art Director”

“Kemal Sarjana Ilmu Politik — Ternyata keasikan jualan mainan”

“Indah Presenter Infotainment — …tapi S1 Arkeologi’

“Sogi Komedian — Diawali dari jadi badut kelas”

“Wahyu Animator — Udah bikin sekolah animasi sendiri”

“Eric Is Fotografer — ..udah tau sampe tua bakal ngapain”

“Emil Arsitek — Dosen Arsitektur berkelas internasional”

Bagiku lagu ini semacam soundtrack hidupku saat ini; seorang sarjana ekonomi yang jatuh cinta pada sensasi travelling dan dunia laut : )

Rasa menyesal terkadang masih terasa dalam hatiku; tetapi ternyata lentera itu tidak pernah salah….

Lentera itu sulit untuk ditemukan dan akan menjadi lebih sulit untuk mempercayai lentera itu…

Kata-kata dalam lagu ini sudah cukup untuk menjelaskan mengapa kita harus percaya pada lentera itu….

Apakah lentera jiwamu ? Hanya dirimu yang bisa menjawabnya dan mengikutinya….

 

Categories: Random Mind